728x90 AdSpace

  • Latest News

    Tuesday, 22 December 2015

    Hari Ibu, Kaum Perempuan Masih "Disiksa" Kemiskinan

    Nofriani Makahanap (61) hidup dengan kondisi memprihatinkan selama belasan tahun di rumahnya yang nyaris roboh di Manado. Dia mengeluhkan tidak adanya perhatian pemerintah terhadap warga yang hidup di bawah garis kemiskinan.

    JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivis Perempuan, Ratna Sarumpaet mempertanyakan apa makna ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai peringatan Hari Ibu. Pasalnya, dia melihat perempuan, khususnya kaum ibu, adalah pihak yang paling menderita.

    "Kalau kita bicara perempuan dan ibu, yang paling menderita ketika kondisi negara seperti sekarang ya perempuan, terutama ibu," ujar Ratna saat dihubungi, Selasa (22/12/2015) siang.

    "Mereka yang pusing anaknya tidak bisa dikasih uang jajan seperti biasanya, dia yang pusing apakah besok bisa makan atau tidak," kata dia.

    Dia mengaku tak berharap tinggi-tinggi terkait apresiasi pemerintah terhadap Hari Ibu dan kaum ibu itu sendiri. 

    Terlebih, menurut Ratna, sebetulnya di tanah air juga sudah terbentuk suatu tradisi di mana seorang anak sangat hormat kepada orang tua.

    Ratna menuturkan yang terpenting adalah bagaimana pemerintah berhenti membuat kebijakan-kebijakan yang memiskinkan rakyat, karena kaum ibu adalah pihak yang paling dirugikan atas hal itu.

    Dia juga memilih memaknai Hari Ibu tidak hanya terbatas pada kaum ibu atau bahkan gender, namun pada arti kehidupan itu sendiri. Tak hanya membuat pesta-pesta perayaan saja, melainkan nilai lebih yang bisa didapatkan oleh kaum ibu dan perempuan.

    "Harusnya memberikan poin lebih, apakah pengakuan kita, apakah penghargaan kita, apakah empati kita," ucap wanita kelahiran Tapanuli Utara tersebut.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Hari Ibu, Kaum Perempuan Masih "Disiksa" Kemiskinan Rating: 5 Reviewed By: Copas Sanasini
    Scroll to Top