728x90 AdSpace

  • Latest News

    Saturday, 2 January 2016

    Perang Besar Melawan Narkoba di 2015, Bagaimana di 2016?



    Jakarta -
    Mungkin tahun 2015 menjadi tahun terbesar sepanjang sejarah Indonesia dalam memerangi narkoba. Lihat saja buktinya, 14 orang gembong narkoba dieksekusi mati dan ribuan kilogram (kg) narkoba berhasil diungkap. Setimpal untuk menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya narkoba.



    Dalam catatan detikcom, Jumat (1/1/2016), awal tahun 2015 dibuka dengan tertangkapnya buronan nomor wahid di 7 negara, Wong Chi Ping oleh BNN. Wong ditangkap beserta 8 kaki tangannya disertai bukti 800-an kg sabu dan menjadi tangkapan terbesar di Asia Pasifik. Kesembilannya lalu diajukan ke pengadilan dan Jaksa Agung Prasetyo menuntut mati kesembilannya. Sayang, Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) hanya menjatuhkan hukuman mati kepada Wong dan Ahmad Salim Wijaya.

    "Bukan berarti semangat penegakan hukum kita kendor! Yang namanya hukuman harus diberikan sesuai fakta persidangan," tegas jubir MA, hakim agung Suhadi.

    Usai penangkapan Wong, BNN, Polri, TNI dan Bea Cukai berturut-turut mengungkap berbagai penyelundupan narkoba dengan jumlah yang fantastis. Baik heroin, sabu hingga ganja. Jalur favorit ganja Aceh-Jakarta dibuat tak berkutik, ribuan kg ganja dicegah beredar oleh BNN atau pun Polri. Puluhan dari mereka dituntut mati, tapi sayang hanya segelintir yang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan.

    Jalur tikus di semenanjung Selat Malaka pun diberangus. Puluhan kg paket dari Malaysia ditangkal dan pelakunya dihadapkan ke pengadilan. Seperti di Lhoksukon, Aceh, satu keluarga berkomplot menyelundupkan sabu dari Malaysia seberat 14 kg. Mereka adalah Ramli (49), Nani (39) dan anaknya, Muzakir (20) serta anggota komplotan, Herman (48). Lagi-lagi sayang, tuntutan mati yang diminta Jaksa Agung HM Prasetyo ditolak dan majelis hakim hanya menjatuhkan hukuman seumur hidup.

    Jalur tikus ini juga dibobol oleh Abdullah, Hamdani, Samsul Bahri dan Hasan Basri yang menyelundupkan 70 kg lebih sabu dari Malaysia pada 15 Februari 2015. Keempatnya nekat berusaha kabur dari markas BNN di Jalan MT Haryono, Jakarta. Atas kejahatan serius ini, keempatnya dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh.

    Di tahun 2015 ini pula para residivis narkoba kembali dibekuk. Mereka melakukan aksinya dari balik penjara, meski sedang menjalani hukuman karena kasus narkoba. Seperti Franola alias Ola yang akhirnya dihukum mati di tingkat kasasi. WN Nigeria Simon Ikecuku juga dihukum mati sebab mengedarkan narkoba dari balik LP Cipinang ketika menjalani hukuman 20 tahun penjara di kasus yang sama. Di Makassar, Amir Acho juga dihukum mati karena sudah berkali-kali masuk bui dan kabur di kasus narkoba. Koki narkoba, Sofyan juga dihukum mati karena mengulangi perbuatannya di kala ia tengah menjalani hukuman 19 tahun penjara di kasus narkoba.

    Di ibu kota, puluhan hukuman mati telah diajukan jaksa ke majelis hakim. Sayang, hanya segelintir yang dikabulkan para 'Wakil Tuhan' tersebut.
    Puncak perang narkoba adalah melaksanakan eksekusi pengadilan, termasuk hukuman mati. Jaksa Agung M Prasetyo lalu menggelar prosesi hukuman mati kepada 14 orang, yaitu:



    Dieksekusi mati Januari 2015:
    1. WN Brasil, Marco Archer Cardoso Moreira, kasus penyelundupan 13 kg kokain
    2. WN Malawi, Namaona Denis, kasus penyelundupan 1 kg heroin
    3. WN Nigeria, Daniel Enemuo, kasus penyelundupan heroin lebih dari 1 kg
    4. WN Belanda, Ang Kiem Soei, kasus pabrik narkoba terbesar se-Asia
    5. WN Vietnam, Tran Thi Bich Hanh, kasus penyulundupan 1,5 kg sabu
    6. WNI Rani Andriani, kasus penyelundupan 3,5 kg heroin

    Diekseksusi mati April 2015
    7. WN Australia, Myuran Sukumaran, kasus penyelundupan 8,2 kg heroin
    8. WN Ghana, Martin Anderson, kasus perdagangan 50 gram heroin
    9. WN Spanyol, Raheem Agbaje Salami, kasus penyelundupan 5,8 kg heroin
    10. WN Brasil, Rodrigo Gularte, kasus penyelundupan 6 kg heroin
    11. WN Australia, Andrew Chan, kasus penyelundupan 8,2 kg heroin
    12. WN Nigeria, Sylvester Obiekwe Nwolise, kasus penyelundupan 1,2 kg heroin
    13. WN Nigeria, Okwudili Oyatanze, kasus perdagangan 1,5 kg heroin
    14. WNI, Zainal Abidin, kasus 58 kg ganja

    Namun apakah perang narkoba 2015 masih berlanjut di 2016? Jawabannya ada di para aparat penegak hukum. Prasetyo sendiri hingga matahari 2016 terbit tampaknya masih bimbang apakah akan kembali melaksanakan eksekusi mati 20 2016 kepada 14 orang sesuai yang dijanjikan atau akan mengurungkannya.



    "Kita lihat nanti, belum bisa saya pastikan," kata Jaksa Agung.

    Perang terhadap narkoba bukannya tanpa sebab. Sedikitnya 1,4 juta orang Indonesia ketergantungan narkoba dan mengalami keterbelakangan mental. Saat ini pemakai narkoba diperkirakan 5,8 juta. Akibat narkoba ini, generasi bangsa hancur dan mereka banyak yang mati sia-sia.

    Seperti dialami model Novi yang dalam pengaruh narkoba mengendarai mobil sehingga menabrak 7 pengguna jalan. Saat itu, Novi hanya memakai pakaian dalam saja. Perilaku Novi kembali terulang beberapa bulan setelahnya. Ada juga Afriyani yang menabrak mati 9 orang usai pesta narkoba dengan temannya dan Afriyani dihukum 19 tahun penjara. Artis sinetron Roger Danuarta juga nyaris tewas di mobilnya dengan suntikan narkoba masih menempal di tangannya di sebuah jalan di Pulogadung, Jakarta Timur. Untungnya, nyawa Roger masih bisa terselamatkan. Komedian Tessy juga dibekuk dengan kasus serupa, di mana kehidupan Tessy hancur lebur karena narkoba.

    Dengan dahsyatnya kekejaman narkoba di atas, masihkah kita menghentikan perang terhadap narkoba?
    (asp/tor)
    http://news.detik.com/
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Perang Besar Melawan Narkoba di 2015, Bagaimana di 2016? Rating: 5 Reviewed By: Copas Sanasini
    Scroll to Top