728x90 AdSpace

  • Latest News

    Friday, 11 March 2016

    Teman Ahok, Pembela Gubernur yang Dinilai Arogan oleh Parpol

    Booth gerakan "Teman Ahok" di mal Kemang Village, Jakarta Selatan, Minggu (30/8/2015).

    JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa minggu ini komunitas Teman Ahok mendapatkan banyak komentar miring dari partai politik. Komentar tersebut muncul dengan melihat sikap Teman Ahok yang berkeras mendorong Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok maju pada Pilkada DKI 2017 lewat jalur independen.

    Belum lagi sikap Teman Ahok yang sempat menyindir PDI-P dengan menganalogikan partai tersebut sebagai banteng merah yang menghipnotis Ahok. Hal paling akhir yang dilakukan Teman Ahok adalah menolak Djarot Syaiful Hidayat sebagai calon wakil gubernur untuk Ahok. Djarot merupakan kader PDI-P.

    Dengan sikap seperti itu, Teman Ahok dinilai arogan oleh partai politik. Ketua DPP PDI-P, Andreas Hugo Pareira, berpendapat buruk soal Teman Ahok. Dia mengingatkan Ahok soal manuver kelompok pendukungnya yang mayoritas diisi anak muda itu.

    "Ini kesannya mereka malah mau menjerumuskan Pak Ahok," kata Andreas saat dihubungi, Selasa (8/3/2016).

    Sikap Teman Ahok untuk mengusung mantan Bupati Belitung Timur itu, lanjut Andreas, mengesankan seolah-olah ada ketidakpercayaan terhadap institusi parpol. Padahal, parpol merupakan instrumen penting dalam sistem demokrasi di Indonesia.

    Sekretaris DPD PDI-P DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi juga menilai ada upaya deparpolisasi yang dibangun di Indonesia oleh Teman Ahok. Indikator itu, kata dia, adalah adanya upaya untuk meniadakan peran partai politik dalam pemilihan kepala daerah.

    Bukan arogan 

    Mengomentari hal itu, pengamat politik dari Cyrus Network, Hasan Nasbi, mengatakan sikap yang dimiliki Teman Ahok bukan bentuk arogansi.  "Saya rasa itu bukan arogan tetapi proposional saja," ujar Hasan.

    Hasan mengatakan Teman Ahok merupakan komunitas yang sudah mengumpulkan dukungan untuk Ahok jauh sebelum partai politik mendekati Ahok. Tujuan mereka mengumpulkan dukungan KTP tersebut hanyalah satu, yaitu membawa Ahok maju ke jalur independen.

    Maka, wajar saja jika sikap mereka seolah tertutup dengan partai politik yang mendekati Ahok.

    "Kalau mereka sudah kumpulin KTP banyak-banyak lalu membiarkan partai masuk, kerjaan mereka sia-sia dong," ujar Hasan.

    Menurut dia, ada perbedaan mendasar antara pilihan mengikuti Teman Ahok atau parpol. Hasan mengatakan jika Ahok mengikuti Teman Ahok, maka masih terbuka kesempatan untuk partai politik mendukungnya. Peran parpol tidak dihilangkan sama sekali dalam hal ini sehingga tidak bisa disebut deparpolisasi.

    Seperti halnya Partai Nasdem yang sepakat mendukung Ahok jika Ahok maju lewat jalur independen. Namun, hal berbeda akan terjadi jika Ahok memilih jalur partai. Pilihan tersebut akan menutup total keterlibatan Teman Ahok dalam memajukan pria asal Belitung itu. KTP yang dikumpulka tidak akan berarti apa-apa jika Ahok maju lewat jalur parpol.

    "Orang kalau udah kumpulkan KTP ya memang engga bisa dinegosiasikan kemana mana. KTP itu engga bisa dijadikan alatbargaining di jalur partai karena jalurnya cuma satu yaitu independen. Kan KTP engga bisa ditumpangi ke partai," ujar Hasan.

    Maka, Hasan berpendapat sikap Teman Ahok selama ini karena mereka memang tidak punya pilihan lain. Komentar arogan oleh parpol pun hanya tafsir politik belaka.

    Dibela Ahok 

    Ahok pun membela Teman Ahok. Menurut Ahok, Teman Ahok sebenarnya bukan orang yang anti-partai sehingga melakukan deparpolisasi seperti itu.

    "Awalnya saya juga pikir apakah Teman Ahok ini enggak suka parpol, apalagi ketika (data) KTP sudah mulai kumpul, mereka bilang mungkin mau jaring calon wakilnya Ahok. Waktu itu saya pikir, kacau nih anak-anak," ujar Ahok di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (8/3/2016) malam.

    "Saya lalu undang mereka ketemu, dan saya tanya apakah kalian anti-parpol? Jawabannya, tidak," tambah dia.

    Ahok mengatakan, apa yang dilakukan Teman Ahok semata karena takut Ahok tidak diusung lagi oleh partai. Jika sudah seperti itu, mereka akan kehilangan sosok pemimpin ideal di mata warga.

    Ahok mengatakan, Teman Ahok tidak ingin berspekulasi dengan mengikhlaskan Ahok maju lewat jalur parpol. Sebab, keputusan parpol biasanya sering berubah pada detik-detik akhir.

    Komunitas Teman Ahok tidak ingin Ahok mengalami kemungkinan terburuk itu, dan akhirnya tidak jadi maju pilkada.

    Penulis: Jessi Carina
    Editor: Egidius Patnistik
    http://megapolitan.kompas.com/
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Teman Ahok, Pembela Gubernur yang Dinilai Arogan oleh Parpol Rating: 5 Reviewed By: Copas Sanasini
    Scroll to Top