728x90 AdSpace

  • Latest News

    Monday, 28 November 2016

    Cerita Kearifan Ulama Saat Dihina di Medsos, dari Gus Mus hingga Ma'ruf Amin

    Foto: Dokumentasi detikcom

    Jakarta - Ulama-ulama ini dicaci maki di media sosial. Tiada emosi dan dendam membara, para ulama ini memaafkan dan merangkul orang-orang yang menghinanya. Kearifan mereka pun menuai pujian.

    Ulama-ulama yang menjadi panutan itu tidak luput dari sasaran makian di dunia maya. Terhangat, cuitan Pandu Wijaya yang diprotes banyak netizen karena dinilai sangat kasar memaki KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus.

    Kasus ini berawal saat Gus Mus melakukan kultwit di Twitter lewat akun @gusmusgusmu. Gus Mus bicara soal rencana Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI melakukan aksi salat Jumat di jalan protokol Jakarta pada Jumat, 2 Desember 2016. Gus Mus berharap aksi salat Jumat di jalan itu tidak dilakukan massa karena dinilainya merupakan bid'ah besar.

    Cuitan itu direspons Pandu Wijaya, yang merupakan karyawan PT Adhi Karya, lewat akun Twitter-nya @panduwijaya_. "@gusmusgusmu Dulu gk ada aspal Gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasullullah hijrah ke Madinah. Bid'ah ndasmu!" cuit Pandu Wijaya yang kini mengunci akun Twitter-nya.

    Komisaris Utama PT Adhi Karya Fadjroel Rachman juga telah meminta maaf kepada Gus Mus atas nama pribadi dan perusahaan lewat akun Twitter-nya @fadjroeL. Dia mengakui ucapan karyawannya menghina mantan Rois Syuriah Nahdhlatul Ulama (NU) itu sangat tidak pantas.

    Gus Mus telah memaafkan orang yang telah berkata-kata kasar kepadanya. Ia juga meminta agar Pandu tidak dipecat dari perusahaan pelat merah itu. "Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu, janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan," ucapnya.

    Selain Gus Mus, Rais Syuriah PBNU KH Ma'ruf Amin telah memaafkan ulah Boni Hargens karena mengunggah ulang foto pernikahannya tahun 2014 lalu. 

    Boni telah meminta maaf dan mengaku salah, seharusnya menyimpan gambar, namun malah mempostingnya di Twitter. "Saya meminta maaf untuk salah tekhnis terkait foto nikah pimpinan MUI. Foto masuk ke HP saya dari WA yang dikirim Bung Bithor. Kepencet," kata Boni.

    Ma'ruf Amin bahkan menanggapi hal itu dengan senyum. "Kalau saya langsung kepada Kiai Ma'ruf Amin, beliau memaafkan. Beliau juga malah sambil senyum-senyum karena diceritakan nikah dengan (wanita berumur) 20-an. Yang jadi bedanya 30 tahunan. (Ma'ruf Amin) malah tidak marah," kata Cholil Nafis.

    Meski Ma'ruf Amin telah memaafkan, Advokat Muda NU (Nahdlatul Ulama) mempersoalkan kicauan Boni Hargens di Twitter terhadap Ma'ruf Amin. Mereka menilai tindakan Boni yang mengunggah foto pernikahan kedua Ma'ruf sebagai pelecehan.

    Selanjutnya, Buya Syafii Maarif yang diserang di media sosial (medsos) dengan pernyataannya yang menyebut hanya kenal sekadarnya saja dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Foto mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini saat makan bersama dengan calon Gubernur DKI Jakarta 2017 itu pun kembali ramai diperbincangkan netizen.

    Syafii Maarif dalam berbagai kesempatan telah menegaskan bahwa tidak ada kedekatan khusus antara dirinya dan Ahok. Dia hanya sekadarnya saja kenal Ahok. Dia ingin masyarakat bersikap adil terhadap kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Apa pun keputusan penegak hukum nanti, semua harus dihormati.

    Tentang foto, itu terjadi ketika Syafii Maarif bertemu Ahok di acara pembukaan Jambore Pelajar 2015 di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin, 21 Desember 2015 lalu. Ahok-lah yang berinisiatif mengundang Syafii Maarif dalam posisi sebagai tuan rumah.


    Berikut kisah 3 ulama itu:

    Foto: Pandu Wijaya ditemani ibu dan saudaranya menemui Gus Mus dan meminta maaf (Istimewa/Twitter/ @ansorkraksaanpc)

    Empat orang dari berbagai daerah datang ke kediaman pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Gus Mus, di Rembang, Jawa Tengah. Mereka minta maaf telah menghina di media sosial.

    Gus Mus bercerita soal pertemuannya dengan para pemuda yang telah menghinanya di media sosial (medsos). Dia mengatakan, pertemuan pada Jumat (25/11) itu sangat istimewa.

    Gus Mus mengatakan, dirinya telah memaafkan ketiga anak muda yang telah berkata-kata kasar kepadanya. Mereka adalah Pandu Wijaya, Bahtiar Prasojo, dan Hasan Albetas.

    Saat ketiga pemuda ini datang menemuinya dan meminta maaf, Gus Mus menyebut semuanya bersikap santun dan sopan. Berbeda dengan sikap mereka semua di medsos.

    "Sedikit pun tidak ada kesan berandalan, sangar, atau kasar seperti yang mereka tampakkan di twit dan status mereka," tulis Gus Mus dalam sebuah tulisannya berjudul 'Jumat dan Silaturahmi' yang diunggahnya di Facebook seperti dilihat detikcom, Minggu (27/11/2016).

    Dalam tulisannya, Gus Mus menyebut para pemuda yang telah berkata-kata kasar kepadanya di medsos ini hanyalah salah pergaulan. Dia pun menyoroti bagaimana 'sakti'-nya medsos bisa mengubah orang-orang yang santun di dunia nyata menjadi buruk perilakunya di dunia maya.

    Berikut tulisan lengkap Gus Mus:

    JUM'AT DAN SILATURAHMI

    Hari Jum'at~yang digelari sebagai Sayyidul Ayyãm,"Pemimpinnya hari-hari"~ memang bagiku sendiri merupakan hari istimewa. Aku berusaha merayakan hari istimewa ini dengan berbagai kegiatan positif seperti yang diamalkan dan diajarkan kiai-kiaiku. Minimal harus lain dari hari-hari yang lain. Misalnya dalam 6 hari yang lain, kesibukanku lebih merupakan 'kesibukan duniawi' saja, aku berusaha semampuku mengisi Jum'atku dengan kesibukan yang lebih 'ukhrawi', bernilai akhirat.

    Untuk itu, kegiatan rutinku~bila tidak sedang bepergian~dimulai dari hari Kamis malam. Lalu pagi harinya, bersilaturahmi melalui ponsel, menyapa dan mendoakan anak-anak; saudara-saudara; keponakan-keponakan; kawan-kawan; dan beberapa kenalan. Kemudian bersilaturahmi dengan saudara-saudaraku warga kampung di seputar Rembang. Bersalaman dengan bapak-bapak dan anak-anak yang ikut ibu-ibu mereka 'bertadarus' Al-Qur'an melalui pembacaan Tafsir Al-Ibriznya Kiai Bisri Mustofa, rahimahuLlãh. Setelah itu menerima tamu-tamu yang kebanyakan dari luar daerah. Lalu setelah salat Jum'at di mesjid Jami' ~kalau tidak terlalu capek atau ngantuk~ biasanya dilanjutkan menemui tamu-tamu lagi, bila ada, kadang-kadang hingga malam hari.

    Jum'at kemarin~25 November 2016~ agak lebih istimewa, karena di antara tamu-tamu yang datang bersilaturahmi dari berbagai daerah, terdapat tamu-tamu muda dari Tegal, Purbolingga, dan Jakarta yang mempunyai tujuan sama. Di samping bersilaturahmi, ingin meminta maaf. Mereka inilah yang beberapa hari sebelumnya, menulis kasar kepadaku di Twitter dan Facebook. Dan sudah aku maafkan via twit di Twitter dan status di Facebook.

    Kulihat anak-anak muda yang rata-rata berusia 25 tahunan ini, seperti umumnya pemuda santri. Polos, santun, dan sopan. Sedikit pun tidak ada kesan berandalan, sangar, atau kasar seperti yang mereka tampakkan di twit dan status mereka.

    Ketika aku tanya apakah mereka benci kepadaku, karena ucapan atau perilakuku yang melukai hati atau menyinggung mereka, mereka bilang tidak. Apakah ada kawan mereka yang pernah kusakiti, dan mereka solider ikut mengecamku, mereka menjawab tidak. Apakah mereka menganggap aku pendukung tokoh politik tertentu yang berlawanan dengan tokoh mereka, mereka menjawab tidak. Ketika kemudian mereka aku tanya, apakah mereka marah karena membaca pendapatku tentang salat Jum'at di Jalanan? Mereka malah seperti kebingungan. Pandu Wijaya malah dengan sangat lesu mengatakan, "Mohon maaf, saat itu saya lagi jenuh dengan pekerjaan."

    Aku pun semakin bertanya-tanya tentang 'kesaktian' sosmed ini. Bagaimana ia bisa mengubah anak-anak yang santun seperti mereka ini menjadi orang-orang yang tega memperburuk citra diri mereka sendiri di sosmed. Melihat penampilan mereka di dunia nyata, aku yakin mereka bukan orang-orang yang tidak tahu adab dan adat.

    Dugaanku mereka hanya salah pergaulan di dunia maya yang memang bagaikan hutan belantara yang~di samping terdapat manusia-manusia berbudi~ penuh dengan makhluk-makhluk palsu yang tidak bertanggung jawab.

    Kepada mereka ini dan semisal mereka~bukan yang sengaja menjadikan sosmed sebagai sarana menebar kebencian dan kekacauan~kalau boleh, aku menasihatkan agar (1) menata kembali niat kita dalam menggunakan dan memanfaatkan Sosmed; (2) berhati-hati dan waspada beraktivitas di 'Dunia maya' yang ~kita tahu~ penuh tipuan; (2) jangan mudah tergiur dengan tampilan-tampilan menarik, biasakan tabayun dan meniliti rekam-jejak; (3) jangan tergesa-gesa membaca dan membagikan bacaan; (4) usahakan sekali-kali KopDar, agar bisa melihat Manusia dalam penampilan nyatanya (dalam hal ini, contohlah misalnya perkawanan maya dan nyata dari misalnya komunitas Adib Machrus, Pakdhe Tegoeh, Timur Suprabana, Zen Mehbob, Triwibowo Budi Santoso, Zaenal Maarif, dan mereka yang tidak hanya bersapaan di sosmed tapi juga bersilaturahmi di dunia nyata. Mereka guyub, penuh kasihsayang); (5) ingat sabda Rasulullah SAW "Innamal a'mãlu binniyãt... alhadits" dan "Min husni Islamil mar-i tarkuhu mã lã ya'ni".

    Semoga Allah membimbing kita baik di dunia nyata maupun di dunia maya.


    Foto: Agung Pambudhy

    Rais Syuriah PBNU KH Ma'ruf Amin telah memaafkan Boni Hargens yang telah mengunggah ulang foto pernikahan tahun 2014 lalu.

    Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, KH Cholil Nafis mengatakan, Ma'ruf Amin telah memaafkan Boni. Cholil mengatakan, Ma'ruf bahkan menanggapi hal itu dengan senyum.

    "Kalau saya langsung kepada Kiai Ma'ruf Amin, beliau memaafkan. Beliau juga malah sambil senyum-senyum karena diceritakan nikah dengan (wanita berumur) 20-an. Yang jadi bedanya 30 tahunan. (Ma'ruf Amin) malah tidak marah," kata Cholil saat ditemui di Gedung MUI Pusat, Jl. Proklamasi No. 51, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (25/11/2016).

    Meski begitu, tetap ada orang yang mencintai Ma'ruf Amin yang tidak berkenan dengan kicauan Boni. Sebab, hal itu dianggap sebagai tindakan merendahkan ulama.

    "Tapi umat yang mencintai beliau, ya marah, geram. Beliau Rois Am NU. Beliau Ketua MUI. Meski secara pribadi memaafkan, tapi kan umat tidak bisa memaafkan," ujar Cholil.

    "Kalau kita sudah memafkan. Tapi kan maaf tidak menyelesaikan persoalan hukum seandainya ada teman-teman, umat yang mau melapor. Kenapa? Karena proses hukum ada 2 tujuannya. Pertama membuat jera orang yang melakukan. Kedua, membuat orang lain tidak melakukan yang sama. Sehingga orang, besok tidak mudah menghina kyai, ulama," imbuhnya.

    Sore tadi, Advokat Muda NU menyambangi kantor sementara Bareskrim di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Mereka bertemu dengan tim Bareskrim untuk mengkonsultasikan cuitan Boni Hargens apakah masuk ranah pidana atau tidak.

    "Kami merasa tersinggung dengan unggahan saudara Boni, menyebarkan tweet yang kemudian bagi kami terpanggil menjadi sesuatu masalah yang besar. Hari ini konsultasi Bareskrim karena ini delik aduan. Kalau misal dari sisi hukum memungkinkannya seperti apa. Ini konsultasi dulu," ucap koordinator tim Advokat Muda NU, Soleh, kepada wartawan di Bareskrim, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (25/11).

    Boni telah meminta maaf atas tindakannya tersebut. Dia mengaku salah: seharusnya menyimpan gambar namun malah mempostingnya di Twitter.

    "Saya meminta maaf untuk salah tekhnis terkait foto nikah pimpinan MUI. Foto masuk ke HP saya dari WA yang dikirim Bung Bithor. Kepencet," kata Boni.


    Foto: Screenshot Instagram basukibtp

    Buya Syafii Maarif terus diserang di media sosial (medsos) dengan pernyataannya yang menyebut hanya kenal sekadarnya dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Foto mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini saat makan bersama dengan calon Gubernur DKI Jakarta 2017 itu pun kembali ramai diperbincangkan netizen.

    Seperti diketahui, Syafii Maarif memilih sikap berseberangan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dia menyebut Ahok tidak menistakan agama Islam terkait pidato kontroversial petahana ini di Kepulauan Seribu. Gara-gara bersikap melawan arus itu, dia pun diserang.

    Di medsos, seperti Twitter, Facebook, dan Instagram, Syafii Maarif disindir dengan adanya foto dirinya makan satu meja dengan Ahok. Foto itu dituding sebagai bukti kedekatan Buya dengan Ahok tidak hanya sekadarnya. Syafii disebut-sebut memang dekat dengan Ahok.

    Foto Ahok makan satu meja bersama Syafii Maarif itu bukan foto rekayasa seperti yang sekarang banyak beredar di medsos. Ahok mengunggah foto tersebut di akun Instagram-nya, basukibtp, Senin (21/12/2015) lalu. Saat itu, Ahok menulis caption pada foto tersebut, dirinya makan siang sambil bicara soal permasalahan di Jakarta.

    "Makan siang hari ini bersama Buya Syafii Maarif. Sambil ngobrol, segala kebobrokan di Jakarta dan Indonesia sudah mendarah daging harus direvolusi mental. Sehat terus Buya," tulis Ahok. Catatan detikcom, Ahok dan Syafii Maarif tidak hanya berdua makan di meja itu, namun ada juga beberapa staf Syafii Maarif yang menemani.

    Foto ini sebenarnya sudah ramai diperbincangkan netizen usai Syafii Maarif tampil membela Ahok di acara Indonesia Lawyers Club TVOne, Selasa (11/10/2016). Setelah Syafii Maarif tampil kembali di acara yang sama membela Ahok dan berlawanan sikap dengan MUI, Selasa (8/11/2016) foto ini pun kembali diusik. Syafii Maarif lagi-lagi dituding punya kedekatan khusus dengan Ahok.

    Syafii Maarif dalam berbagai kesempatan telah menegaskan bahwa tidak ada kedekatan khusus antara dirinya dan Ahok. Dia hanya sekadarnya saja kenal Ahok. Dia ingin masyarakat bersikap adil terhadap kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Baginya, toh proses hukum sudah berjalan dan Ahok telah meminta maaf dan siap dipenjara jika terbukti bersalah. Apa pun keputusan penegak hukum nanti, semua harus dihormati.

    Kembali ke soal foto Syafii Maarif dan Ahok yang makan bersama, peneliti di Syafii Maarif Institute Pipit Aidul Fitriyana menjawab hal ini. Dia juga membantah ada kedekatan khusus antara Syafii Maarif dan Ahok.

    Dijelaskan Pipit, foto itu terjadi ketika Syafii Maarif bertemu Ahok di acara pembukaan Jambore Pelajar 2015 di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (21/12/2015) lalu. Menurutnya, Ahok yang berinisiatif mengundang Syafii Maarif dalam posisi sebagai tuan rumah.

    "Ada yang nemani mereka makan, 5 orang termasuk panitia. Saya Ketua Panitia ketika acara itu berlangsung. Saya sangat paham konteks foto itu. Jadi, tolong jangan menyebarkan fitnah yang tidak semestinya," ucap Pipit. Dia juga membantah Syafii Maarif punya kedekatan khusus dengan Ahok.

    Pipit menyayangkan foto itu menjadi viral, namun kehilangan konteks. Sehingga dengan mudah orang mencibir dan menghina dan mendiskreditkan Syafii Maarif. "Alangkah indah bila kita tidak cepat (sembarangan) mengambil kesimpulan. Supaya tidak pula menjadi ashabul fitnah," ujarnya.

    (aan/fjp)

    https://news.detik.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Cerita Kearifan Ulama Saat Dihina di Medsos, dari Gus Mus hingga Ma'ruf Amin Rating: 5 Reviewed By: Copas Sanasini
    Scroll to Top