728x90 AdSpace

  • Latest News

    Monday, 7 November 2016

    Kok Tega, Mereka Jarah dan Hancurkan Warung Nasi Saya

    Sejumlah barang bukti dibawa petugas Polres Jakarta Utara saat olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di dua minimarket, Jalan Gedong Panjang, Penjaringan, Jakut, Sabtu (5/11/2016). Kedua minimarket tersebut sempat dirusak dan dijarah sekelompok orang pada Jumat (4/11/2016) malam. 

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pecahan kaca  di samping etalase, potongan kayu kaso hingga batangan besi masih tampak berserakan di lantai warung nasi di ruko Jalan Gedong Padang nomor 68, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (5/11/2016) siang. Bahkan, rangka sepeda dengan kondisi hangus terbakar tersandar di etalase.
    Begitulah kondisi warung nasi milik Ruslani (40) yang menjadi salah satu korban penyerangan dan penjarahan sekelompok massa pada Jumat (4/11) malam. .
    Ruslan mengibaratkan, pelaku penyerangan dan penjarahan warung nasinya seperti pelaku terorisme. Sebab, kelompok tersebut secara tidak langsung meneror keselamatan dirinya.
    "Saya awalnya memang sempat khawatir terjadi kejadian rusuh 98 karena ada demo besar 4 November kemarin. Ternyata benar tapi yang kena kami saja yang di sini. Tapi, ini termasuk perusakan, penjarahan. Menurut saya ini melebihi teroris," ucap Ruslani.
    "Saya cuma pedagang kaki lima, enggak tahu masalahnya apa, tiba-tiba gerobak, panci, lampu dihancurin, saya nggak ngerti mereka maunya apa," sambung Ruslani.
    Ruslani menceritakan kronologi kejadian penyerangan dan penjarahan yang menimpa warungnya. Sekitar pukul 21.00 WIBia tengah duduk di depan warung. Tak lama kemudian, ia mendengar keriuhan dari sekelompok anak muda berjumlah seribu orang yang datang berjalan kaki dari arah Utara, Luar Batang.
    Kelompok massa itu berjalan menuju arah lampu merah dekat warungnya. Tiba-tiba kelompok massa tersebut menyerang seorang polisi yang berjaga.
    Selanjutnya, massa tersebut berjalan ke arah balik menuju ruko tempatnya berjualan. Tiba-tiba, belasan anak tanggung berusia sekitar 15 tahun melempari warungnya dengan batu dan diikuti dengan perusakan gerobak dan isinya dengan kayu.
    "Yang menyerang anak-anak ABG sekitar 10 sampai 20 orang, pakai pakaian biasa, nggak putih-putih. Saya nggak tahu apa ada yang menggerakkin atau nggak," ujar Ruslani yang lahir dan besar di Rawa Bebek itu.
    Seketika Ruslani menghentikan ceritanya. Ia sempat menatap kosong dengan mata memerah ke arah etalase tempat berjualan yang telah porak poranda.
    "Saya lagi duduk, berharap ada yang beli lagi jelang saya mau tutup warung. Tiba-tiba diserang dan dirusak warung saya pakai batu dan kayu. Awalnya saya kira anak warga sini lagi tawuran, ternyata bukan. Saya kaget banget," ucap Ruslani seraya menghentikan ceritanya.
    "Saya sampai sekarang masih trauma, terus kepikiran kejadian semalam, kalau saya atau istri dan anak saya kena batu siapa yang tanggung jawab," sambungnya.
    Ruslani mengaku langsung berteriak meminta istri, anak dan tiga karyawannya untuk melarikan diri ke dalam ruko begitu penyerangan terjadi. "Saat kejadian ada 10 orang di sini, alhamdulillah nggak ada yang kena lemparan batu. Pas kaget diserang, kami lari ke dalam ke arah belakang dan loncat pagar. Karena kalau kabur ke luar sudah banyak massa dan asap hitam sudah pekat, pengab," ungkapnya.
    Ruslani mengungkapkan, sekitar seribu polisi dan TNI tiba di warungnya untuk membubarkan kelompok massa tersebut sekitar 15 menit setelah kejadian.
    Namun, saat kembali ke warungnya, ia sudah mendapati sejumlah fasilitas jualannya, seperti dua etalase, meja, kursi telah hancur dan hangus. Sejumlah bahan mentak dan makanan siap saji, seperti nasi goreng di kualinya sudah porak-poranda.
    Lebih dari itu, sepeda tua milik rekannya, penjual rokok, Iskandar juga sudah berada di tengah jalan dengan kondisi hangus terbakar. "Kok tega, sepeda buat belanja orang ikut dibakar, nasi goreng baru mateng dibuang," selorohnya.
    Berharap Bantuan Pemprov
    Ruslani hanya duduk santai dan berbincang dengan saudaranya di depan warung saat Tribun menemuinya. Sesekali ia menoleh ke arah etalase tempat jualannya yang sudah porak-poranda.
    Ia mengaku saat ini tengah bingung. Sebab, kerugian yang diderita akibat penyerangan dan penjarahan kelompok tersebut mencapai Rp10 juta. Ia tak tahu bagaimana caranya mencari modal agar bisa kembali berjualan."Kisaran kerugian materil sekitar 10 juta, yang mahal etalase bisa Rp3 juta," ujar Ruslani.
    Kini, ia hanya bisa berharap ada bantuan dana dari Pemprov DKI Jakarta agar dirinya bisa kembali berjualan.
    "Saya juga bingung, minta ganti ke siapa. Karena orang-orang yang melakukan anarkis itu tidak mungkin mau tanggung jawab. Jadi, paling saya hanya bisa berharap pemprov DKI mau ulurkan tangan untuk bantu ganti rugi ke saya supaya bisa jualan lagi dan menafkahir anak istri," ucap Ruslani.
    Ia menceritakan, pendapatannya bisa mencapai Rp2 juta setiap hari jika kondisi pembeli ramai. "Cuma kemarin saya dagang lagi sepi baru dapat Rp300 ribu. Yah karyawan sementara menganggur, saya cuma bisa bilang ke mereka untuk sabar dulu, nunggu ada modal untuk jualan lagi," kata Ruslani.
    "Ke depan hanya bisa nunggu izin dari pemilik ruko apa rukonya bisa dipakai untuk jualan lagi atau tidak, kalau boleh saya akan bereskan dan cari modal. Kalau nggak boleh, yah sementara saya menganggur. Makanya itu saya berharap bantuan pemerintah DKI Jakarta," kata Ruslani.
    Ia pun berharap agar para pelaku penyerangan diproses hukum. "Saya serahkan masalah itu ke polisi," tukasnya.(tribunnews/abdul qodir)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kok Tega, Mereka Jarah dan Hancurkan Warung Nasi Saya Rating: 5 Reviewed By: Copas Sanasini
    Scroll to Top